Sistem Seleksi Pengembangan Peternakan Kambing / Domba

Tiga kegiatan dalam kegiatan peternakan adalah pengembangan konsep dari Pembibitan (Breeding), Pembiakan Bibit (Multiplier), Pembiakan Komersil (Commercial). Metode yang digunakan dalam melakukan sistem seleksi yaitu pengamatan dan pengukuran yang dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan secara individu dan populasi. sistemnya dengan menggunakan sistem seleksi. Pengamatan dan pengukuran secara kualitatif dan kuantitatif tersebut antara lain :
a. Kualitatif
Kombinasi antara ekor ngabuntut bagong atau ngabuntut beurit (bentuk ekor domba yang berbentuk segitiga dengan timbunan lemak atau tanpa timbunan lemak pada pangkal ekor dan mengecil pada ujung ekor) dengan kuping yang rudimenter atau rumpung (< 4 cm) atau ngadaun hiris (4-8 cm). Selain ciri khas diatas, maka dalam melakukan pemilihan bibit ternak peternak juga harus memperhatikan beberapa hal lainnya yaitu: umur muda (12-18 bulan), sehat dan tidak cacat, muka lebar dan panjang, dada lebar dan dalam, tubuh besar dan panjang, punggung lurus dan rata, kaki lurus dan kuat, penampilan gagah dan aktif, nafsu kawinnya besar, temperamen/sifat keibuan (mengasuh anak) baik dan memiliki tanduk yang besar dan subur, tidak pernah mengalami gangguan reproduksi, sebaiknya berasal dari keturunan unggul, pertumbuhan baik dan cepat serta keturunan kembar, baik bapaknya maupun induknya serta berasal dari daerah yang bebas dari penyakit menular.

b. Kuantitatif
Cara pengamatan yang dilakukan secara kuantitatif dilakukan dengan pengukuran biometri tubuh, antara lain : (1) berat badan ; (2) panjang badan ; (3) tinggi pundak ; dan (4) lingkar dada.

Kriteria seleksi yang dilakukan dalam memilih bibit baik pejantan maupun induk didasarkan atas prestasi performans dirinya sendiri, dengan menggunakan metode secara penyingkiran bebas dari yang tidak berkualitas sehingga akan di dapat pejantan maupun indukan yang benar – benar berkualitas yaitu seleksi yang dilakukan atas dasar beberapa macam kreteria yang dilakukan satu persatu, parameter atau ukurannya adalah sebagai berikut : (1)Berat Sapih (kurang lebih 120 hari); (2)Berat Badan 1 tahun (kurang lebih 365 hari); (3) Uji libido dan kualitas sperma (jantan); dan (4) Reproduksi (betina) baik.

Ada beberapa tahapan yang harus dijalankan dalam melakukan seleksi mulai dari anak sampai dewasa yang terdiri dari 3 tahap, antara lain:
1. Seleksi Tahap Ke-1
Seleksi anak baik jantan maupun betina pertama kali dilakukan pada saat di sapih, dimana standar umur sapih yaitu umur 4 bulan (120 hari). Sebelum dilakukan tahap seleksi yang pertama, maka berat lahir dari masing-masing individu harus terlebih dahulu ditimbang. Hal ini dilakukan sebagai data pendukung dalam melakukan seleksi tahap pertama (Berat Sapih 120). Jika data berat lahir (BL) tidak diketahui, maka untuk memperkecil kesalahan, maka penimbangan anak harus tepat pada umur 120 hari, sehingga dengan demikian untuk anak tersebut akan mendapatkan Berat Sapih 120 dari berat hidupnya. Sistem seleksi yang digunakan yaitu seleksi populasi dengan parameter yang diamati yaitu : Berat Badan. Adapun tujuan dari penyeleksian pada tahap pertama yaitu untuk mengidentifikasi induk – induk yang baik.
2. Seleksi Tahap Ke-2
Bentuk atau tekstur tubuh setelah disapih merupakan indikator yang sangat penting, karena bentuk tubuh yang dicapai oleh ternak tersebut merupakan kemampuan dari individu ternak itu sendiri, karena adanya pengaruh induk sudah dianggap tidak ada lagi. Untuk mengetahui perkembangannya maka anakan tersebut akan dilakukan penimbangan setiap 1 – 4 bulan sekali sejak umur 5 – 12 bulan. Seleksi tahap kedua dilakukan pada saat umur 12 bulan atau 365 hari (BB.12), dimana sistem seleksi yang digunakan yaitu seleksi populasi dengan parameter utama yang diamati yaitu: Berat Badan dan parameter pendukung yang diamati yaitu: Panjang Badan, Lingkar Dada, Tinggi Pundak dan eksterior. Sedangkan tujuan penyelaksian pada tahap kedua ini yaitu untuk memilih calon bibit pejantan dan indukan.
3. Seleksi Tahap Ke-3
Seleksi tahap ketiga dilakukan pada saat umur 18 – 24 bulan, dimana sistem seleksi yang digunakan yaitu seleksi individu dengan parameter yang diamati yaitu: uji libido dan uji kualitas sperma (jantan) dan reproduksi (betina). Pada uji libido yang diamati adalah waktu pertama mencumbu betina, frekuensi mencumbu, waktu dan frekuensi flehmen (mengangkat bibir dan kepala ke atas pada saat bertemu betina), waktu pertama kali menaiki betina, dan waktu ejakulat. Sedangkan pada uji kualitas sperma harus menggunakan uji laboratorium. Sedang yang diuji adalah volume semen per ejakulat, keasaman, warna semen, konsistensi semen, gerakan massa spermatozoa, konsentrasi spermatozoa per milimeter, persentase motilitas spermatozoa, persentase spermatozoa hidup, dan persentase abnormalitas spermatozoa, persentase. Uji reproduksi yang dilakukan pada induk bertujuan untuk mengetahui kemampuannya dalam menghasilkan anak yang baik. Parameter yang diamati yaitu kemampuan reproduksinya, antara lain yaitu induk mampu melahirkan 6 – 8 bulan sekali, temperamen, sifat mengasuh baik dan produksi susu tinggi. Dimana umur seleksi pada betina dilakukan pada umur 18 – 24 bulan atau partus/kelahiran pertama, sedangkan untuk jantan dilakukan pengamatannya pada umur ≥1,5 tahun.

Menurut pengampatan dan pengalaman yang pernah dilakukan dalam menentukan atau memilih beberapa kelompok yang akan dijadikan sebagai basis pembibitan, harus memenuhi beberapa kreteria dibawah ini, antara lain yaitu:
1.Potensi alam: lahan atau padang rumput cukup luas; artinya ketersedian pakan hijauan untuk ternak cukup banyak dan mudah didapatkan disekitar wilayah tersebut.
2.Tersedianya pakan-pakan tambahan seperti dedak padi, jagung, dan limbah-limbah pertanian lainnya.
3.Sistem pengelolaan atau pemeliharaan ternak sudah cukup baik dan sudah terbiasa dalam beternak.
4.Motivasi dalam beternak cukup tinggi, khususnya sedikit banyak dalam beternak ke arah breeding/pembibitan.
5.Dataran tinggi dengan curah hujan tinggi.
6.Dapat dilakukan sistem rekording atau pencatatan dengan baik.
7.Dapat melakukan penimbangan terhadap ternak – ternaknya pada umur – umur tertentu.
8.Kesiapan dan kesanggupan dari kelompok – kelompok yang akan melukan kegiatan beternak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: