Pengembangan Domba / Kambing

Potensi untuk mengembangkan Domba / Kambing di Indonesia sangat potensial. Ini dapat dilihat karena 30 persen dari kebutuhan pangan merupakan dari sektor ternak. Pasar komunitas mencoba mengembangkan sektor usaha ternak Domba / Kambing. Pengembangan Domba / Kambing yang dilakukan pasar komunitas salah satunya berada di daerah Bandongan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Pasar komunitas mengembangakan ternak Domba / Kambing dengan sistem gaduhan. Selain bertujuan untuk meningkatkan produksi daging juga untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan.

Peternakan Domba / Kambing yang dikembangkan pasar komunitas adalah pembibitan. Pembibitan diperlukan kejelian dalam pemilihan calon indukan yang baik dan berkualitas. Sebagai gambaran indukan yang baik adalah calon induk berumur sekitar >12 bulan ( 2 buah gigi seri tetap ), tingkat reproduksi minimal sedang, Sifat keindukan baik, tubuh tidak cacat, kalau bisa berasal dari keturunan kembar, jumlah punting dua buah dan berat badan > 20 Kg.

Alasanya bisa digambarkan calon induk berumur > 12 bulan diharapkan indukan sudah dewasa kelamin dan segera birahi. Apabila membeli yang belum berumur dimungkinkan waktu untuk beranak juga akan semakin lama. Padahal tujuannya adalah induk segera beranak. Tingkat reproduksi yang tinggi akan lebih cepat untuk mendapatkan untung. Untuk itu para petani penggaguh yang ada di kelompok Sumbing Inti melakukan pemilihan indukan dilakukan dengan sangat jeli.

Pemilihan indukan dan pengelolaan yang baik diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun. Hal-hal yang harus diperhatikan dan diketahui penggaduh adalah Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6 s/d 10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan mencapai 55 – 60 kg. Lama birahi 24 – 45 jam, siklus birahi berselang selama 17 – 21 hari. Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau/diam bila dinaiki. Ratio jantan dan betina = 1 : 5.

Pemeliharaan dilakukan dengan kandang panggung maupun kandang yang ada disekitaran rumah. Pemilihan kandang disekitaran rumah karena pertimbangan pengelolaan yang lebih dekat. Sedangkan pemilihanan kandang kelompok yang dipanggung biar lebih mudah melakukan kontrol kegiatan lebih cepat dan mudah. Sedangkan dilihat dari hasil ternyata tidak berbeda. Yang membedakan adalah dari segi pengelolaan.

Penggaduh juga sudah melakukan pengelolaan dan pemberian pakan yang sudah relatif bagus. Pemberian pakan juga sudah dilakukan sesuai dengan cara petani biasa lakukan. Akan tetapi perlu dilakukan peningkatan management pemberian pakan yang baik. Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral).

Cara pemberian pakan juga perlu diperhatikan jangan asal memberikan. Pakan diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 – 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya. Sedangkan untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 – 1 kg/ekor/hari.

Petani yang menggaduh juga secara bertahab melakukan pembelajaran untuk didapatkan hasil yang maksimal. Melihat kejadian kematian yang terjadi seperti perut kembung dan usus yang membengkak dimungkinkan kambing mengalami masuk angin. Ini bisa terjadi karena daerah Bandongan merupakan daerah dataran tinggi. Temperatur di Bandongan relatif sangat dingin dan ini sangat mudah memacu masuk angin. Ini dapat dilihat dengan adanya perut yang membesar maupun kembung perut.

Akan tetapi hendaknya ditekankan pada pencegahan penyakit melalui sanitasi kandang yang baik, makanan yang cukup gizi dan vaksinasi. Penyakit yang sering menyerang kambing adalah: cacingan, kudis (scabies), kembung perut (bloat), paru-paru (pneumonia), orf, dan koksidiosis. Kembung perut dan paru – paru adalah bagian penyakit yang sering menyerang dan menyebabkan kematian kambing di Sumbing Inti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: